Translate

Selasa, 12 November 2019

12 November 2019

Aku Hana. seorang perempuan berusia 23 tahun yang masih mencari sosok jati diriku. Banyak hal membuatku bingung. Mungkin karena aku selalu merasa kesepian, meskipun aku tak sendirian. Tak banyak yang bisa aku jelaskan, karena aku tak pandai mengutarakan. Meskipun aku banyak bicara, bukan berarti semua orang mengerti maksud isi kepalaku. Seringkali aku disalahpahami dan berakhir dibenci. Aku terbiasa dengan itu. Aku merasa banyak yang berubah pada diriku, hanya saja, aku tak mengerti kemana arah perubahan diriku ini. Yang jelas, aku tak begitu mengenal diriku sendiri. terlalu banyak luka di hatiku. Banyak kmungkinan terjadi di hidupku, antara menjadi mudah percaya, maupun menjadi sungkar untuk percaya. 
dahulu, aku percaya bahwa akulah pemeran utama dalam hidupku. Namun lambat laun, aku merasa aku bukanlah pemeran utama dalam hidupku. aku, hanyalah aku, yang terkadang tak terlihat, dan terkadang tak terdengar, meski sekeras apapun aku menjerit. mungkin bukan sekarang waktu untuuku bersinar. atau aku memang takkan pernah bersinar?
tapi aku percaya suatu hari nanti aku akan bahagia.

Kamis, 21 Februari 2019

22 Februari 2019

Hai, aku Hana.
Sebentar lagi umurku beranjak 23 tahun, tapi banyak hal yang belum aku lakukan.
Awalnya aku membuat blog ini dengan tujuan membuat puisi-puisi. Tetapi karena setiap hari aku selalu depresi, aku tak pernah meluangkan waktuku untuk membuat satupun puisi.
Aku selalu sedih, menangis, dan meratapi hidupku yang menyebalkan. Hingga akhirnya aku menjadi menyebalkan juga haha.
Tapi, depresi bukanlah sesuatu yang menyenangkan, dan sesuatu yang dianggap sepele. Beberapa kali aku mencoba mengakhiri hidup walau pada akhirnya Tuhan masih menyayangiku dengan tetap membuatku hidup.
Aku biasa melakukan apapun sendirian, dan berusaha untuk tidak bergantung pada siapapun. Pada akhirnya banyak yang bergantung padaku, dan aku, bergantung pada diriku sendiri.
Jika orang lain punnya keluarga, tentu aku juga punya keluarga. Hanya saja aku tak terlalu dekat dengan keluargaku. Meski keluarga selalu nomor satu untukku, tetapi keluargaku tak benar-benar mengenali diriku. Mungkin itulah awal pemicu depresiku. Karena tak ada yang mengerti isi kepalaku. Sampai sekarang sulit sekali menemukan orang yang dapat memahamimu. Yang paling sedih adalah, hanya kau yang memahami dirimu sendiri. Parahnya, aku jadi tak begitu percaya padaorang lain. Atau bahkan percaya terlalu mudah hingga akhirnya menjadi luka tambah dalam hidupku. Jujur, aku takut, takut akan dunia, takut akan orang lain, takut akan masa depan. Apakah masa depanku akan baik-baik saja? Akankah aku punya pendamping masa depan yang akan memahamiku seutuhnya? Bagaimana aku harus berjuang untuk diriku sendiri? Semuanya tampak tak pasti untukku, dan aku benci sesuatu yang tidak pasti.
Suatu hari nanti, aku akan bahagia. Itu yang kupercayai. Agar aku tetap hidup.